Membangun Pondasi Kebudayaan Lewat Digital Technology
Sebagaimana yang kita tahu, bahwa Negara kita ini terdiri dari berbagai macam kebudayaan, suku, dan bahasa yang tentunya memiliki filosofi tersendiri. Keberagaman ini tentunya tidak terus saling damai, tetapi juga memunculkan berbagai macam beda pendapat antara daerah satu dengan daerah yang lainnya.
Terkadang terdapat pandangan yang saling bertolak belakang antar budaya, dimana budaya A menganggap hal itu biasa saja, dan dapat berarti dianggap tidak sopan dalam budaya B. Hal yang seperti ini tidak boleh dianggap sepele. Perbedaan budaya seperti ini dapat menjadi sebuah pemicu konflik besar bagi sesama, terlebih bagi masyarakat yang masih memiliki pandangan yang sangat tradisional atau kental dengan budaya daerahnya, dimana mereka pasti akan memperjuangkan budaya yang ia miliki.
Melihat realitas seperti ini, dimana zaman yang terus semakin berkembang dengan perkembangan teknologi yang ada, kita sebagai masyarakat Indonesia diharapkan bisa membangun sebuah pondasi yang kuat bagi Negara Indonesia ini agar budaya selalu terjaga, dan utuh hingga kapan pun.
Teknologi merupakan perkembangan media atau alat yang dapat memudahkan dalam menyelesaikan suatu permasalahan, misalnya pekerjaan. Dari pengertian tersebut seharusnya kita juga bisa memanfaatkan teknologi tersebut untuk melestarikan budaya dan tradisi yang ada.
Hanya saja, masih banyak orang yang belum bisa memanfaatkan secara maksimal teknologi yang ada untuk hal yang bermanfaat. Untuk itu dengan adanya teknologi yang saat ini saya mengajak dari kalangan masyarakat usia dini hingga dewasa untuk mengenal filosofi yang dimiliki kebudayaan jawa tentang kesenian wayang kulit.
Mengungkap Filosofi Wayang Kulit Melalui Teknologi Terkini
Wayang biasa diartikan sebagai gambaran yang didalamnya mencerminkan kehidupan manusia, wayang kulit merupakan seni pertunjukan dari kebudayaan jawa yang sangat erat dengan unsur estetika dan pesan moralnya.
Kata wayang berasal dari kata “Ma Hyang” yang diartikan sebagai roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Kesenian wayang kulit ini merupakan kesenian yang sudah mendunia. Kesenian ini mampu menggabungkan berbagai macam kesenian seperti seni sastra, seni musik (gamelan, sinden, dan sebagainya), seni rupa, seni kriya, dan sebagainya.
Istimewa sekali kesenian yang satu ini, kolaborasi dari berbagai kesenian mampu menghasilkan sebuah pertunjukan yang sangat keren.
Dalang
Dalam pagelaran wayang kulit, dalang adalah yang mengatur jalannya sebuah cerita atau lakon. Wayang tanpa dalang tentu tidak akan bisa untuk dimainkan. Dalang diibaratkan sebagai sutradara dari kehidupan (Tuhan Yang Maha Esa) yang mengatur segala jalan kehidupan di dunia ini. Selain itu banyak juga yang mengartikan bahwa dalang ialah gambaran roh atau nyawa dimana wayang (gambaran dari raga manusia) tidak akan bergerak atau mati jika tanpa nyawa, maka supaya raga dapat bergerak dan hidup, maka harus bersatu dengan nyawa.
Beber atau Layar Putih
Beber dalam pagelaran wayang bisa diartikan sebagai gambaran dari bumi yang pada awal penciptaannya masih suci sebelum dihuni oleh makhluk apa pun. Namun, setelah makhluk sudah memasuki bumi, maka bumi perlahan akan terisi dengan berbagai perilaku, sifat, dari makhluk-makhluk tersebut.
Kelir (Batang Pohon Pisang)
Kelir ini dapat diibaratkan sebagai sebuah raga yang dihuni oleh jiwa yang berbentuk wayang, dalam makna filosofinya kelir ini bisa diartikan raga hanya akan berguna ketika jiwa masih menancap , dan sebaliknya.
Mengenal Tokoh Wayang Untuk Membangun Masyarakat Yang Beradab dan Berbudaya
“ Sunan Kalijaga mengarang lakon-lakon wayang dan menyelenggarakan pagelaran wayang dengan upah baginya jimat Kalimasada atau ucapan kalimat syahadat”
Sudah tidak asing lagi bagi kita salah satu sunan dari wali songo yaitu sunan kalijaga, beliau terkenal sebagai tokoh yang sangat toleran terhadap budaya lokal. Ia mempunyai strategi dalam mendekati atau mengenalkan agama Islam kepada masyarakat.
Sudah tidak heran lagi jika ajaran yang diajarkan Sunan Kalijaga sangat mudah difahami, mengapa demikian, karena beliau mengenalkan isalm menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, sholawat atau seni suara (suluk) dalam berdakwah.
Selain menggunakan wayang kulit, beliau juga menciptakan beberapa lagu jawa yang juga memiliki makna filosofi tersendiri yaitu, Gundul-gundul pacul, Ilir-Ilir, Sluku-sluku bathok, dan masih banyak lagi.
Sunan kalijaga lah yang membuat tokoh pewayangan punakawan, seperti Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. Nahh, ini waktu yang ditunggu-tunggu. Mari kita bahas tentang makna filosofis dari pewayangan punakawan, yang tentunya begitu menarik hingga sekarang, saya ingin mengenalkannya dari tokoh Semar, hehe.
Semar
![]() |
| sumber: newswantara.com |
Semar secara harfiah diartikan sebagai Sang Penuntun Makna Kehidupan. Dalam bahasa Jawa disebut Badranaya, yang berarti Bebadra (Membangun Sarana dari Dasar), Naya (Utusan Mangrasul) atau Mengemban sifat membangun dan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
Gareng
![]() |
| sumber: newswantara.com |
Gareng merupakan tokoh punakawan kedua setelah Semar, nama lain dari gareng ialah Pancalpamor (menolak godaan duniawi). Pegatwaja (gigi sebagai perlambang bahwa Gareng tiak suka makan makanan yang enak-enak, boros, dan mengundang penyakit).
Mata juling dari gareng memiliki arti tidak mau melihat hal-hal yang negatif (tidak baik), tangan ceko (melengkung) memiliki arti tidak mau merampas hak orang lain, sedangkan sikil gejik (pincang) memiliki arti selalu penuh kewaspadaan dalam segala perilaku.
Tentu saja filosofi dari tokoh Gareng ini harus diambil hikmahnya bagi kita semua.
Petruk
Namanya berasal dari kata “Faruk” yang diambil dari penggalan kalimat tasawuf, “Fatruk Kulla Maa Siwallahi”, memiliki makna meninggalkan semua dan berserah diri kepada Tuhan. Tokoh punakawan yang ketiga ini memiliki nama lain Kanthong Bolong, yang artinya suka berdema.
Selain itu, Petruk memiliki lima sifat dasar di dalam jiwanya, yang pertama Momong yang berarti seseorang yang pandai mengasuh anak, kedua Momot yang berarti seseorang yang pandai menyimpan rahasia,ketiga Momor berarti lapang dada, keempat Mursid berarti mudah paham, dan yang kelima ialah Murakabi yang berarti bermanfaat bagi orang di sekitarnya.
Dalam pewayangan tokoh Bagong digambarkan sebagai sosok yang bertubuh gemuk, bermata bulat lebar, bermulut lebar dan memiliki watak yang lucu atau gemar bercanda. Tokoh ini juga memiliki filosofi watak yang jujur dan sabar, ia tak pernah berteriak ataupun memberontak dikala keadaan yang terjepit.
Inti dari filosofi tokoh bagong ialah hidup ini perlu hiburan agar tidak tegang, setiap tindakan jangan tergesa-gesa dalam melaksanakannya (harus diperhitungkan dampak negatif dan positif), kejujuran adalah modal utama dalam bermasyarakat.
Oh ya, sebenarnya banyak yang dapat kita petik dari filosofis atau makna dari kesenian wayang ini. Dalam tokoh punakawan ini banyak sekali nasihat atau perilaku dari tokoh yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau saya suka dengan tokoh Petruk, kalau Anda suka dengan Tokoh Punakawan siapa?
Bila kita menerapkan hal-hal yang positif dari makna tokoh punakawan tersebut, pastinya kita akan menuju dalam hal kebaikan setiap harinya. Sudah seharunya kita mengenalkan berbagai filosofi atau makna dari setiap kebudayaan melalui teknologi yang sudah canggih seperti saat ini.
Saya berterima kasih kepada Kominfo DIY yang telah menyelenggarakan berbagai macam kegiatan dalam rangka melestarikan atau memperkuat pondasi kebudayaan yang ada di Indonesia atau di Daerah Istimewa Yogyakarta melalui lomba-lomba digital seperti Blog, dan sebagainya.
Sebelum kita tutup mari kita nembang Ilir ilir terlebih dahulu agar aktivitas kita lebih semangat dan menyenangkan, hehe..
“Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY 2019”.









Komentar
Posting Komentar